Enable javascript in your browser to view an important message

Kamis, 16 Februari 2012

RELATIF

Benar / Salah - Cantik & Tampan - Baik / Jahat = R E L A T I F


Apakah salah, bila seorang miskin; dengan segala keterbatasan dan keadaan yang memaksa; mencuri seliter beras dari sebuah warung untuk menyambung hidup(?)

Apakah benar, bila sekelompok manusia dilarang untuk beribadah oleh manusia-manusia lainnya hanya karena ibadah kelompok tersebut (minoritas) dinilai tidak sesuai dengan yang dijalankan oleh manusia-manusia lain tersebut (mayoritas), atau sekalipun dianggap sesat(?)


Apakah jahat, bila seorang anak disekolahkan orang-tuanya di sebuah sekolah swasta dengan biaya mahal, sementara tidak jauh dari sana ada seorang anak yang ingin sekolah namun terkendala ekonomi keluarganya yang tidak memungkinkan(?)

Apakah baik, bila seorang tak dikenal mencuri / merampok dari seorang yang cukup mapan (bukan kaya raya), untuk kemudian diberikan pada manusia lain yang membutuhkan bantuan(?)


Relatif.

Jadilah manusia..

Baca Selengkapnya

MANUSIA - Punahkah Ekualitas?

Pada hakikatnya manusia itu sama.
Yang membedakan hanyalah fisik secara keseluruhan dan jenis kelamin mereka.


Tapi, kenyataannya sekarang ini tidaklah demikian!

"Manusia sama, sama-sama ciptaan Tuhan", demikianlah omong-kosong yang dikatakan para relijius.

Benar manusia itu sama, terpaku pada hakikat yang pernah ada. Terlepas dari itu, manusia adalah sekumpulan kompetitor yang berlomba memenuhi hasrat psikologis mereka.
Mulai dari barang hingga gelar pada namanya.
Mulai dari pengakuan umum atas kontribusinya bagi masyarakat luas hingga tempat baginya di surga sana.

Kapan pun kesempatan yang mereka punya; apapun akan dilakukan, siapapun akan dikorbankan, untuk mencapai klimaks yang mereka idamkan.

Manusia itu berbeda!
Karena ada si kaya & si miskin, si hitam & si putih, si alim & si kafir.

Ya, bukan karena 'amal-perbuatannya'; karena  jahat / baik itu layaknya cantik / tampan atau benar / salah: relatif.

Selama para orang-tua masih mencekoki anaknya dengan pemikiran-pemikiran kolot (fasis, rasis, mental budak, dsb); selama generasi muda acuh dengan pengertian dari spesiesnya; manusia akan tetap berbeda!




Baca Selengkapnya

Kamis, 15 Desember 2011

HUJAN - Antara Sukacita dan Derita

Hujan, sudah pasti penilaian orang berbeda-beda akan hal ini.
Senang, gundah, kesal, aaaaahh kompleks sekali.

Ga sedikit orang yang bahagia dengan turunnya hujan, bahkan sangat mengharapkannya.
Para petani dan semua masyarakat yang sedang mengalami musim kemarau adalah contohnya.
Namun disaat hujan turun, terlebih lagi khususnya saat musim hujan, dimana hujan terus menerus turun dalam intensitas yg cukup tinggi, kerap kali membuat sebagian masyarakat hidup dalam ketakutan.
Warga Jakarta, khususnya yang tinggal di sekitar bantaran kali adalah mereka yang bisa dibilang 'takut' dengan hujan, karena banjir menimpa tempat tinggal mereka itu sudah pasti.
Sudah rahasia umum, faktor utama penyebab masalah itu adalah buruknya kinerja pemerintah yang terkait untuk mencegah dan menanggulanginya. Ulah manusia yang kerap membuang sampah sembarangan di kali juga faktor penyebab lainnya.
Ya emang sih, faktor yg lebih utama dibanding kinerja buruk pemerintah yang emang buruk (hehe) adalah imbas dari kemajuan teknologi. Ozon yang berlubang dan makin tipis karna efek rumah kaca, asap kendaraan dan pabrik membuat iklim berubah dan ga nentu.

Tapi yang ingin saya bahas di sini bukan masalah itu, karena sudah rahasia umum. Dengan kata lain, masyarakat luas pun juga sudah sadar akan hal itu.

Ojek Payung
Kemarin-kemarin, waktu gua di Terminal Kampung Rambutan saat hujan, adalah kali pertama gua ngelihat "Ojek Payung" lagi setelah ± 1 tahun ga ngeliat mereka (jarang pergi-pergi sih :P).
Iya, mereka yang bawa-bawa payung sambil menggigil trus nawarin "Bu payung bu.. Mas payung mas.." yang banyak kita jumpai di terminal / pasar / lampu merah tiap hujan.
Sebuah profesi yang pengen banget gua coba waktu kecil, tapi ga pernah gua lakuin karena gua udah terbiasa hidup nyaman dan dibesarkan dengan manja.. haha
Mereka nawarin jasa menyewakan payung mereka untuk orang lain biar ga kehujanan sampai tempat tujuan / tempat untuk sekedar berteduh, sementara mereka kehujanan.
Seinget gua waktu gua kecil dulu jasa mereka dihargai Rp. 500 sampe Rp. 1.000.. Mungkin sekarang antara Rp. 1.000 sampe Rp. 2.000.
Secara ga langsung hujan pasti disambut sukacita oleh para pengojek payung, karena mereka bisa mengais rezeki dari hujan yang turun.
Saya rasa pasti ada orang yang berpikiran pendapatan pengojek payung pasti besar. Sama halnya dengan penilaian sebagian masyarakat terhadap pengemis, yang didukung banyak berita mengenai rumah beberapa pengemis di Jakarta, yang berada di daerah Jawa, yang rumahnya bisa dibilang mapan.

Kalau pun emang bener pengemis atau pengojek payung itu pendapatannya besar, trus kenapa?
Semua pekerjaan ada resikonya.
Pengemis, yang menurut saya pribadi syukur-syukur bisa makan nasi sekali dalam sehari, resikonya malu! Pengemis di jalan / lampu merah, resikonya malu + sakit karena lingkungan sekitar yg penuh polusi.
Begitu pula dengan pengojek payung.
Sementara ga sedikit orang yg gembira dengan turunnya hujan seperti yang saya tuliskan di SINI, pengojek payung hujan-hujanan mencari beberapa ribu rupiah.
Saya rasa wajar misalkan seorang pengojek payung bisa mengantongi Rp. 50.000 dalam sejam, dengan hanya berjalan kaki mengikuti orang yang menyewa payung sampai tempat tujuan / tempat meneduh.
Tapi sebelum kita iri, ada baiknya kita pikirkan dulu, seberapa kuat kita harus menahan dingin dan menggigil untuk mendapatkan Rp. 50.000 tersebut? Terlebih jika kita adalah seorang anak berusia dibawah 17 tahun, seperti kebanyakan pengojek payung pada umumnya.

Sekian dan terima teh hangat :)
Baca Selengkapnya

Senin, 07 November 2011

Berkurbanlah !!!

Semangat malaikat yang semu seakan merasuki diri
berlandaskan niatan ibadah yang diharapkan
Iya
Berbahagialah kalian
Kalian terpilih olehNya !

Berharap jiwa kami berguna bagi kelangsungan hidup kalian
bagi anak-anak kalian,
bagi kalian
Begitu kah doa kalian ?

Intensitas raungan memohon iba yang meninggi
tak sebanding dengan euforia yang berbanding lurus
dengan tiap-tiap cipratan darah.

Entah efek ganja
Entah pengaruh alkohol
Entah apa
Entah siapa yang dapat mendengar rintihan kalian
Entahlah

Setidaknya anak-anak kami berkecukupan makan
pun untuk sehari
Entahlah
Bagaimana rintihan kalian
Bagaimana hujatan anak-anak kalian.

Yang pasti disini hanya
Betapa berbahagianya kami
Betapa berbangganya empunya kalian, kambing!!

Inikah benar?
Inikah berkurban?
Inikah kehendak mu, hei Tuhan!?

Baca Selengkapnya